alqur’an vs Sains tentang teori bigbang 3

Selanjutnya di bawah ini kita kemukakan pula teori yang berdasarkan ayat-ayat Alquran yang memberikan pokok pikiran bahwa semesta raya itu bergerak Parallel :Waktu itu, planet yang lebih dekat pada Surya lebih kecil massanya, planet yang lebih jauh massanya lebih besar. Setiap planet itu saling bertarikan dengan Surya yang memakai kekuatannya sebesar tenaga yang dapat menahan planet itu tak keluar dari orbitnya. Dimisalkan saja pada Bumi kita. Planet ini diperkirakan orang beratnya 600 trillion ton, maka Surya mengulurkan tangan kuatnya untuk menahan Bumi yang melayang ini lebih besar daripada 600 trillion ton itu. Planet yang terpinggir tentunya jauh lebih besar daripada Bumi kita maka tenaga Surya yang menahannya sangat besar sekali. Jika kebetulan planet besar itu atau planet lain yang berada di bawah orbitnya setantang dengan Bumi menjurus pada Surya maka waktu itu berlakulah kelebihan tenaga Surya yang menimpa Bumi ini. Hal demikian dinamakan Transit of Planet, dalam Alquran dijelaskan pada ayat 25/45 dan dinamakan Jaumuz Zullah yang amat berbahaya termaktub pada ayat 26/189. Waktu itu berlakulah pembesaran radiasi Surya yang menimbulkan berbagai akibat gawat.

أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ
وَلَوْ شَاء لَجَعَلَهُ سَاكِناً ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلاً
25/45. Apa tidakkah engkau perhatikan betapa TUHANmu telah memperganda planet-planet
yang melakukan lindungan (zillu)? Dan kalau DIA kehendaki, akan DIA jadikanlah semua itu diam.
Kemudian KAMI jadikan Surya itu sebagai keterangan (dalil) atasnya.

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ
عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
26/189. Maka mereka mendustakannya (Syua?aib) lalu siksaan mengambil mereka pada hari transit
(yaumuz zullah), bahwa hal itu adalah hari siksaan besar.
Dalam waktu 2.000 tahun ciptaan pertama, planet terpinggir tadi telah dua kali mengorbit keliling Surya dan selama itu minimal dua kali pula planet-planet yang beredar di bawah garis orbitnya telah mengalami Jaumuz Zullah. Karena planet-planet masih empuk maka pembesaran radiasi Surya ketika itu jadi mengrusak hingga memecah beberapa planet menjadi kecil, satu di antaranya jadi hancur benar-benar. Hal ini disebutkan ALLAH pada ayat 33/72. Sesudah masa 2.000 tahun tadi, planet-planet tidak terpecah lagi, lalu masa penciptaan itu selesai setelah 4.000 tahun lagi kemudiannya, terlaksanalah rotasi dan orbit menurut mestinya, permukaan planet jadi membeku hingga cocok untuk tempat kehidupan makhluk. Ayat 41/10 menyatakan dalam pada 4.000 tahun terakhir itu dibentuklah atmosfir setiap planet dan berotasilah masing-masingnya dalam jangka waktu-watu yang ditentukan ALLAH, kini ternyata setiap planet itu berbeda lama rotasinya, seperti Bumi ini 24 jam dan Jupiter selama 9 jam 50 menit.


Sesudah zaman Apollo, orang tidak lagi berpendapat bahwa umur tatasurya yang kita diami ini sudah berlangsung 500.000.000 tahun tetapi menganggap lebih tua lagi malah ada yang menyangka 4.000.000.000 tahun atau lebih.

Pada ayat 11/7 Alquran menyatakan bahwa semesta raya ini diciptakan dari ALMA’ seterusnya ayat 21/30 menyatakan bahwa semua yang hidup diciptakan ALLAH dari ALMA’ juga, maka timbullah pertanyaan: apakah yang dimaksud dengan istilah itu? Kalau dipakaikan arti H2O yaitu AIR, tak mungkin, karena air adalah benda yang timbul kemudian. Memang pada beberapa ayat, ALMA’ itu berarti AIR seperti hujan yang turun dari atmosfir atau seperti sungai yang mengalir, tetapi Alma’ pada ayat 11/7 dan 21/30 jelas mempunyai arti yang lain.

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ
عَمَلاً وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِن بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ
11/7. Dan DIAlah yang menciptakan planet-planet dan Bumi dalam enam hari (6.000 tahun) dan
adalah semesta-NYA atas Hydrogen, untuk mengujimu tentang siapa dari kamu yang lebih baik
perbuatannya. Dan jika engkau katakan bahwa: kamu adalah orang-orang kafir itu:
bahwa ini hanyalah sihir (pesona) yang nyata.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
21/30. Apa tidakkah memperhatikan orang-orang kafir itu bahwa planet-planet dan Bumi ini dulunya
adalah sebingkah (kekosongan total)? Lalu KAMI pisah-pisahkan keduanya, dan KAMI jadikan setiap
yang hidup dari alma? (hydrogen), apakah mereka tidak beriman?
Para ahli fisika sama sependapat bahwa HYDROGEN adalah atom asal. Semua bintang berisikan zat itu yang kemudian berobah jadi Helium dan zat lainnya. Dari Hydrogen terwujudlah berbagai element lain yang kini diketahui lebih dari 100 macamnya. Dengan itu dapatlah ditarik kesimpulan untuk mengartikan Alma? pada kedua ayat tadi dengan Hydrogen, dari Hydrogenlah semesta raya ini diciptakan ALLAH.

Walaupun demikian, ayat 11/7 itu berkesimpulan: “Dan adalah semestaNYA di atas Alma”. Bukan saja ayat itu menerangkan semesta diciptakan dari Alma’ tetapi juga berada di atas Alma’, karenanya timbullah perkiraan bahwa Alma’ tersebut lebih kecil dari pada Hydrogen.

Akhirnya didapatlah kunci keilmuan tentang itu dari ayat 41/10 bahwa Alma’ adalah kekosongan mutlak. Semesta raya diciptakan ALLAH dari kekosongan dan semesta ini berada di atas kekosongan atau dikelilingi oleh kekosongan dan semesta ini berada di atas kekosongan; Kekosongan yang dinamakan Alma’ itu lalu diberi Rawasia (batang magnet) maka berputarlah kekosongan tadi jadi inti atom yang berputar di sumbunya. Kini Alma’ tersebut telah jadi Nuclear. Kemudian Nuclear yang terdiri dari Alma’ dan Rawasia yang berputar itu menimbulkan Electron dan Positron selaku pembungkus. Komposisi dari semua itu dinamakan dengan Hydrogen selaku atom asal.

Hal itu sesuai dengan capaian penyelidikan terakhir bahwa Hydrogen tidak dapat diketahui secara terang betapa wujud dan bentuk Proton (Nuclear) dan Electron yang ada padanya. Penggambaran yang diberikan hanyalah dugaan dan perkiraan semata, padahal dia tidak berisikan apa-apa kecuali Rawasia atau Proton yang berputar, dikelilingi oleh Electron dan Positron yang oleh Alquran disebut dengan MAR’A pada ayat 79/31 dan 87/4.

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا وَمَرْعَاهَا
79/31. DIA keluarkan daripadanya airnya dan Mar’anya.

وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى
87/4. Dan yang mengeluarkan Mar’a
(dari setiap benda angkasa hingga jadi Nebula dan Comet).

Proton, yang berputar dan yang memutar selaku inti atom, menimbulkan adanya Electron dan Positron yang melingkupi, barulah dia menjadi suatu wujud yang kini dinamakan orang dengan Hydrogen. Kadang-kadang Electron dan Positron itu melakukan emisi (terpelanting) tersebab atom melakukan kegiatan sesamanya, maka Electron yang negatif itu dengan Positron yang positif, bersatu menjadi Neutron dengan sifat neutral, lalu dia mengapung ke angkasa tak kembali seperti yang berlaku dalam proses atom yang di namakan Proton-proton Cycle. Lebih jauh dapat dikatakan lagi bahwa pada berbagai proses demikian itu terwujudlah berbagai macam benda konkrit, bentuk dan warna, dan dengan proses itu juga terdapatlah perubahan dari muda jadi tua, dari bagus jadi buruk, kemudian melebur untuk jadi wujud lain dan selanjutnya.

Kiranya dari semua itu, dapatlah disimpulkan bahwa ALLAH menciptakan semesta raya ini dari kekosongan, bukanlah dari suatu yang telah ada. Disamping itu tidak salah jika diartikan Alma’ dengan Hydrogen karena memang Hydrogen itu hanyalah kekosongan yang diberi Rawasia yang sangat abstract, keaktifan Rawasia itu menimbulkan adanya Electron dan Positron yang non-partikel. Ingatlah bahwa suatu partikel adalah suatu wujud yang memiliki Rawasia, lihat keterangan di atas.

Ayat 3/190 bagaikan menganjurkan manusia ramai memikirkan penciptaan ALLAH atas benda-benda angkasa karena dengan itu akan didapat alasan-alasan untuk mengabdi pada ALLAH tanpa ragu. Bahan-bahan pemikiran untuk itu diberikan ALLAH secukupnya dalam Alquran. Ayat 41/10 menyatakan bahwa pada mulanya ALLAH menempatkan Rawasia. Ini berarti bahwa Alma’ diberi Rawasia hingga menjadi Hydrogen. Kemudian zat ini menimbulkan berbagai atom dan molekul. Kumpulan molekul ini diberi pula Rawasia yang lebih besar maka terwujudlah Bumi dan planet-planet lain. Hal yang sama berlaku pada tiap tatasurya di semesta raya. Terbentuklah bintang yang dikitari, planet yang mengitari, dan bulan sebagai satelite, semuanya terwujud dan berfungsi dengan sistem Rawasia yang berlainan. Semua ciptaan itu berlangsung dalam satu waktu, sekaligus bukan bergantian.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
3/190. Bahwa pada penciptaan planet-planet dan Bumi serta pertentangan malam dan siang
adalah pertanda-pertanda bagi para penyelidik.
Ayat 21/30 menyatakan bahwa planet-planet dan Bumi ini mulanya bersatu sebingkah lalu dipisah-pisahkan. Hal itu berarti bahwa dulunya semuanya itu adalah kekosongan yang sebingkah dan barulah terpisah-pisah sesudah masing-masingnya memiliki Rawasia yang memutar hingga akhirnya berupa globe atau bulatan yang berdiri sendiri-sendiri. Semua itu mudah saja bagi ALLAH malah praktis sebagai dimaksudkanNYA dalam ayat 84/1 s/d 84/4.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
إِذَا السَّمَاء انشَقَّتْ
84/1. Dan ketika angkasa (tatasurya) itu terpecah (susunannya).

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ
84/2. Dan dia praktis bagi TUHANnya dan logis.

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ
84/3. Dan ketika Bumi itu diperganda (sebagai bermula).

وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ
84/4. Dan ditempatkan apa-apa padanya dan dia jadi teratur.

Pada keterangan di atas telah dijelaskan betapa ALLAH menciptakan semesta raya ini dari kekosongan yang diberi Rawasia yang berbeda-beda hingga akhirnya terbentuklah bintang-bintang selaku pusat edaran dan planet-planet dengan Bulan-bulan yang mengorbit. Tetapi hendaklah disadari bahwa dalam jangka waktu 2.000 tahun planet-planet termasuk Bumi ini belum lagi membeku seperti keadaannya kini. Permukaan masih berapi yang bergejolak, Globenya masih empuk dan belum memadat. Dalam pada itu tatasurya yang berputar di sumbunya selama 1.000 tahun baru dua kali berputar 360 derajat. Artinya selama 2.000 tahun itu planet terpinggir dari tatasurya kita baru dua kali mengitari Surya. Hal demikian berlaku dalam waktu yang sama di seluruh tatasurya dalam semesta raya disebutkan pada ayat 41/12.

a. Semesta raya berasal dari ALMA’ yang diberi Rawasia (batang magnet=magnetic bar). Dengan berbagai sistem Rawasia itu terwujudlah berbagai macam benda angkasa, terpisah menurut keadaan dan susunan sebagai terlihat kini. Untuk itu perhatikanlah maksud ayat 11/7, 21/30 dan 41/10. Ayat terakhir ini juga menyatakan perbedaan Rawasia antara yang ada pada bintang, bulan dan Planet serta berbeda pula nilai tarik masing-masingnya. Demikianlah benda ankasa itu ada Yang menjadi bintang atau surya dengan sistem magnet yang kita namakan Regular.
Yang menjadi Planet memiliki Rawasia dengan sistem Simple. Dan yang menjadi Bulan atau satelit memiliki Rawasia yang kita namakan Spot. Jadi bukanlah semesta raya itu terdiri dari bintang-bintang yang berasal dari ledakan suatu benda raksasa.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
21/30. Apa tidakkah memperhatikan orang-orang kafir itu bahwa planet-planet dan Bumi ini dulunya
adalah sebingkah (kekosongan total) ? Lalu KAMI pisah-pisahkan keduanya, dan KAMI jadikan setiap
yang hidup dari alma’ (hydrogen), apakah mereka tidak beriman?

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا
وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِّلسَّائِلِينَ
41/10. Dan DIA jadikan padanya dari atasnya Rawasia, dan memberkati padanya (dengan ionosfir)
dan menentukan padanya (rotasinya) dalam empat hari (4000 tahun) bersamaan bagi hasil
orang-orang yang meminta (menyelidiki).
b. Ayat 70/4 menerangkan bahwa semesta raya berputar di sumbunya 360 derajat dalam masa 50.000 tahun. Ayat 22/47 menyatakan tatasurya berputar di sumbunya selama 1.000 tahun 360 derajat dan selanjutnya. Kedua ayat itu memberikan kesan bahwa gerak putaran semesta berlaku pada satu arah dan tidak mungkin ada yang melawan arah. Hal ini menjadi dasar untuk diberi nama gerak Parallel.
Semesta dan galaxy yang tidak mempunyai sumbu putaraan yang nyata, terkandung dalam maksud berbagai Rawasia yang tercantum pada ayat 41/10, berbeda dengan tatasurya yang berputar di sumbunya dimana suatu bintang atau surya bertindak selaku pusat edaran, maka karenanya sengaja kita tidak memberi nama untuk sistem Rawasia yang memutar semesta begitupun yang memutar galaxy. Ingatlah istilah rawasia yang banyak termaktub dalam Alquran adalah jama’ atau plural number dengan arti berbagai sistem magnet dan daya tariknya.

c. Ayat 16/12 menyatakan bahwa bintang-bintang di angkasa bergerak mengelilingi semesta di mana antara satu bintang dengan yang lainnya tidak bersangkut paut, maka gerak inilah juga mendorong pikiran untuk menamakan semesta bergerak Parallel yaitu gerak satu arah pada jarak yang berlainan dari titik pusat edaran. Hal keadaannya sama dengan sepuluh planet dalam tatasurya kita, masing-masingnya beredar pada garis orbit yang berbeda jaraknya dari surya selaku pusat edaran.
Perbedaan jarak antara masing-masing galaxy dari pusat edarannya di angkasa luas menimbulkan penglihatan bahwa ada galaxy itu yang semakin dekat dan ada yang semakin jauh.
Hal keadaannya bersamaan dengan planet Mars atau Venus yang jika dipandang dari Bumi Adakalanya kelihatan mendekat dan adakanya menjauh, disebabkan oleh lingkaran yang dijalani planet itu berbeda sedangkan geraknya hampir bersamaan.

Keterangan mengenai gerak semesta seperti di atas ini didasarkan atas wahyu-wahyu ALLAH yang tercantum dalam Alquran untuk peningkatan pengetahuan, bukanlah berdasarkan dugaan dan prasangka yang umumnya menyesatkan.

Banyak ayat Alquran yang menyatakan bahwa ALLAH menciptakan tatasurya ini selama enam hari, diantaranya ialah ayat 7/54, 10/3, dan 32/4. Tetapi berdasarkan ayat 22/47 nyatalah satu hari yang dimaksudkan itu sama dengan 1.000 tahun Qamariah (Lunar Year) atau sama dengan 972 tahun Syamsiah (Solar Year) yaitu tahun pergantian musim kini, maka jelaslah 6 hari yang dimaksud ayat-ayat suci ialah 6.000 tahun.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَا
وَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ
10/3. Bahwa TUHANmu ialah ALLAH yang menciptakan planet-planet dan Bumi dalam enam hari (6.000 tahun)
kemudian berada atas semesta. DIA perikutkan perintah itu. Tiada penolong kecuali sesudah izinNYA.
Itulah ALLAH TUHANmu, maka sembahlah DIA, apa tidakkah kamu pikirkan?

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَا
وَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
32/4. ALLAH itulah yang menciptakan planet-planet dan Bumi dan apa-apa di antaranya dalam enam hari
(6.000 tahun), kemudian berada atas semesta. Tiada bagimu selain DIA dari pimpinan begitupun penolong,
apa tidakkah kamu pertimbangkan?
Pada keterangan di atas telah dinyatakan bahwa seluruh bintang di angkasa dikitari oleh planet-planet dan memang setiap bintang itu berfungsi Surya pada tatasurya masing-masing. Alquran memberikan contoh tentang jangka waktu penciptaan tatasurya yang kita diami yang keadaanya sama dengan tatasurya-tatasurya lain dalam semesta raya. Hal ini dibuktikan oleh ayat 41/12 dimana dijelaskan bahwa semesta raya diciptakan ALLAH selama enam ribu tahun sekaligus. Jadi, bukanlah benda-benda angkasa itu terwujud satu persatu atau berganti-ganti, karenanya tiadalah bintang yang baru lahir, masih muda atau yang sudah tua, tetapi semuanya berumur sama.

Perlu diperhatikan bahwa ayat 41/9 dan 41/10 membagi waktu penciptaan yang 6.000 tahun itu menjadi 2.000 dan 4.000 tahun.

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ
الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَاداً ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ
41/9. Katakanlah: apakah kamu akan engkar pada DIA yang menciptakan Bumi ini dalam dua hari
(2000 tahun) dan kamu jadikan untukNYA bandingan? Itulah TUHAN seluruh manusia.

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ
وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
41/12. Maka DIA laksanakanlah mereka jadi tujuh planet (di atas Bumi) dalam dua hari (2000 tahun) dan
mewahyukan kepada setiap angkasa (tatasurya) urusan masing-masing. Dan KAMI hiasi angkasa (semesta)
dunia ini dengan bintang-bintang berapi serta penjagaan (dengan sifat repellent sesamanya).
Itulah ketentuan Yang Kuasa mengetahui.

Maka hal sebenarnya yang menjadi sebab bagi teori Einstein dan Hubble untuk menyatakan ada bintang yang sedang tumbuh dan yang sedang habis ialah karena mereka melihat dengan teleskop mereka bahwa ada bintang yang semakin jauh dan tentu semakin kecil dan redup kelihatan, dan ada pula yang sedang mendekat lalu kelihatan semakin besar dan cemerlang. Keadaan posisi bintang demikian mereka sangkakan sedang menghabis dan sedang membentuk diri. Pada hal keadaan itu ditimbulkan oleh gerak semesta Parallel sebagai diterangkan diatas. Keadaannya sama dengan posisi Jupiter atau Venus sepanjang zaman jika dilihat dari Bumi. Adakalanya planet-planet itu sedang menjauh dan adakalanya sedang mendekat pada Bumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s