Noordin M top….dan Densus 88

Berbagai media massa baik dalam maupun luar negeri sudah memberitakan dengan cukup ‘pasti’ bahwa orang yang tewas dalam penyergapan Densus 88 adalah seorang putra Malaysia Noordin M Top. Beliau disebut sebagai murid dari  (Alm) Ustad Mukhlas atau Ali Gufron di Pesantren Lukmanul Hakim – Malaysia, setelah Ustad Mukhlas pulang dari Perang Afganistan melawan militer Rusia dibawah naungan Osama Bin Laden. Ali Gufron sendiri merupakan lulusan dari pesantren di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, yang dipimpin mantan amir Jamaah Islamiyah, Ustad Abu Bakar Baasyir, pesantren yang didirikan oleh Ustad Abdullah Sungkarlah. Jadi, secara hirarki Noordin M Top adalah “cucu” perguruan dari Ustad Abu Bakar Baasyir.

Foto Noordin M Top dari situs FBI

Noordin M Top termasuk orang yang cerdas dan memiliki kemampuan doktrinisasi Jihad Fisabilillah dengan sasaran utama adalah Amerika, Inggris, Australia dan sekutunya (yakni orang/warga, fasilitas dan kepentingan). Alasannya adalah membalas dendan terhadap Amerika dan negara-negara sekutunya yang menurut para eksterimis  ini telah lama mendholimi umat Islam di berbagai negara, seperti Palestina, Afganistan, Irak dan berbagai negara berpenduduk muslim. Bagi mereka, selain melawan pemerintah Indonesia yang “diam” terhadap kepentingan Amerika, mereka bersekutu dengan berbagai organisasi massa Islam untuk bersama-sama mengubah ideologi Negara Indonesia dengan ideologi Negara Islam, sekaligus mengusir kepentingan asing di Indonesia.

******************

Dari motivasi yang hampir sama, sejak tahun 2000, sudah 28 bom meledak di berbagai penjuru Indonesia yg menewaskan sedikitnya 322 Orang. Dari 28 bom tersebut, setidaknya 5 bom besar diduga didalangi oleh Noordin M Top. Ada 5 bom tersebut adalah:

  1. Bom Bali 2002 pada 12-10-2002
  2. Bom Marriot 2003 pada 05-08-2003
  3. Bom Kedutaan Australian pada 09-09-2004
  4. Bom Bali II pada 01-10-2005
  5. Bom Ritz-Carlton dan JW Marriott pada 17-07-2009 pukul 07.47

Setelah bom Bali II, Polri dan Densus 88 terus mengejar jaringan teroris, dan akhirnya dapat melumpuhkan guru Noordin M Top yakni Dr Azhari dalam penyergapan di Batu Malang (09-11-2005). Maka pasca tewasnya Dr Azhari, praktis ancaman bom sudah melemah, dan saat itu polisi sudah bersenang diri. Dimasa-masa kelengahan polisi itulah, Noordin M Top membentuk jaringan baru di berbagai daerah Indonesia yang mana mudah ditemukan orang yang mudah “sepaham” dengannya, yang akan menjadi pengikut setia dan siap melakukan bom bunuh diri sebagai “jalan cepat” (short-cut)  ke surga tertinggi dan memiliki  “bidadari-bidadari”.

Banyaknya jaringan Noordin dapat dilihat bahwa pengikut dan “amunisinya” tetap banyak meskipun sumber dananya relatif ’sedikit’. Ditemukannya ‘amunisi’ (bom) di Palembang, Cilacap dan Bekasi serta pendanaan yang cukup besar dalam perencanaan hingga pengeboman di Ritz Carlton dan JW Marriot memberi bukti. Meskipun paradigma masyarakat sudah mulai banyak yang berubah terhadap tindakan teror mereka, namun begitu mudahnya proses doktrinisasi mati syahid dengan ngebom sana-sini masih menjadi kekuatan besar jaringan Noordin M Top.

Densus 88 dan Noordin 8-8-8

Pasca peledakan bom di dua hotel tersebut, baru Polri terpencut untuk mengeluarkan kekuataanya. Kurang dari 1 bulan, jaringan-jaringan Noordin M Top dapat terkuak cepat. Satu per satu loyalisnya tertangkap, dan berakhir di desa Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Selama 18 jam, tim Densus 88, berakhir melumpuhkan pria yang diduga kuat sebagai Noordin M Top yang lahir 11-08-1968. Noordin M Top tewas pada tanggal 08-08-2009. Mayat Noordin M Top ini lalu dibawa dari rumah terakhirnya dengan ambulans bernomor polisi 1313-IX ke Bandara Adi Sucipto-Yogya untuk selanjutnya dibawa ke Jakarta. Sebelumnya, angka 8 muncul di kamar hotel 1808 Ritz Carlton tempat pelaku teror menginap untuk mengeksekusi bom pada jam 07.47 WIB tanggal 17-07-2009.

Dari misteri angka-angka seperti di atas, maka mungkin ada korelasi kematian Noordin M Top pada 8-8-2009, karena jejak-jejak yang ditinggalkan Noordin selalu mengisahkan angka yang menarik. Misalnya Bom Bali I pada 12-10-2002 merupakan angka unik sekaligus simbol kelanjutan dari 11-09-2001 di WTC Amerika. Begitu juga Bom Kedutaan Australia 09-09-2004, Bom Bali II 01-10-2005, dan termasuk bom terakhir.

Dan bila nanti (setelah hasil DNA) menunjukkan bahwa mayat yang tewas ditembus oleh timah-timah panas di “WC Rumah Beji” adalah Noordin M Top, maka angka-angka ini akan bertambah menarik. Selain angka-angka diatas, saya akan juga menampilkan analisis dari grafik Bioritmik. Bioritmik bioritmik merupakan bagian dari  studi yang menganalisis siklus metabolisme tubuh dan jiwa kita. Dari penelitian para ahli di bidang kronobiologi, diketahui bahwa tubuh manusia memiliki ‘irama’ fisik, mental,  intelektual dan bahkan intuisi/kearifan. Bioritmik menjadi ‘paramater’ sehat, peruntungan, semangat dan sejenisnya.

Bioritmik Noordin M Top pada 8-8-2009Bioritmik Noordin M Top pada 8-8-2009

Dari grafik di atas, secara ilmu bioritmik, keadaan fisik, emosional, dan intelektual Noordin M Top dalam keadaan negatif atau melemah. Secara ilmu bioritmik, maka jam biologis tubuh biasanya menjadi ‘lonceng’ keberuntungan hidup manusia.

Pertanyaan?

Dari kronologi penyergapan Noordin M Top oleh Detasemen Khusus Polri 88 Anti Teror sejak 07-08-09 hingga 08-08-2009 yang disampaikan oleh berbagai media, ada beberapa kejanggalan yang masih menjadi pertanyaan. Pertama, ketika dalam keadaan terluka, mengapa ia bersuara dan mengaku dirinya sebagai Noordin M Top dengan logat Jawa. Sebagai orang yang ‘cerdas’, semestinya dalam kondisi terdesak, ia hanya berdiam diri dan berpura-pura mati dan ketika ada anggota Densus masuk ia dapat melakukan penyerangan terakhir (terlebih bila ada bom yang siap meledak). Alasan ini dapat dipatahkan, bila Noordin M Top tidak memiliki bom yang siap meledak.

Kedua, mengapa tidak ada satupun loyalis yang menemani Noordin M Top sendirian di Temanggung? Sebagai orang penting dalam jaringannya, Noordin mestinya memiliki “body-guard” di ring utamanya. Alasan ini dapat terpatahkan apabila Noordin M Top dalam satu minggu terakhir sudah merasa dirinya terpojok oleh kekuatan polri menemukannya.

Namun terlepas dari itu semua, jika mayat yang tewas dalam serangan Densus 88 ini adalah Noordin M Top, maka semoga saja ini menjadi kematian terakhir bagi para seorang teroris, dan tidak ada lagi orang-orang yang melakukan bom bunuh diri kepada orang-orang yang tidak bersalah. Dan terima kasih kepada Polri yang akhirnya kembali menunjukkan kinerja yang cepat, tepat, dan profesional.

nusantaraku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s