Utang Najis

Pengakuan John Perkins dalam bukunya “Confession of Economic Hitman” bahwa negara-negara dunia ketiga yang memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) telah menjadi target “perampokan” dan “susu perahan utang” korporasi Amerika yang disusun secara sistematis oleh Pemerintah Amerika melalui agen Economic Hitman (EHM) yang diback-up oleh CIA, hendaknya menjadi sumber inspirasi para pejabat negeri ini untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia yang telah dirampok. Di era 1960-an, para EHM mendatangi negara seperti Equator, Indonesia, Panama, Uruguay, Iran, Argentina, Brazil, Chili, dan negara-negara yang kaya dengan SDA lainnya.

Seperti pengakuannya, tugas ia yang pertama kali adalah menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk korporasi Amerika. John Perkins bekerja di MAIN, sebuah perusahaan konsultan yang populer di dekade 60-80-an bagi korporasi Amerika seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan lainnya. Dan buku pengakuannya, Confession of EHM masuk dalam New York Times bestseller list selama 7 minggu.

Pekerjaan yang paling utama  kami sebagai EHM adalah : membangun imperium global (global empire). Grup elit kami terrdiri dari pria wanita yang memanfaatkan organisasi keuangan internasional untuk menjadikan negara-negara lain [target EHM seperti Indonesia] sebagai negeri jajahan/pelayan korpotokrasi dari perusahaan-perusahaan kami, pemerintah kami, dan bank-bank kami. [itulah mengapa Kwik Kian Gie menulis sebanyak 4 artikel Proses Terjajahnya Kembali Indonesia Sejak Bulan November 1967 : bag I, bag II, bag III, bag IV. Silahkan klik bag I – bag IV]

Seperti para Mafia, EHM berpura-pura menjadi pihak baik yang bermurah hati. Kami memfasilitasi pinjaman [melalui bank rekanan MAIN] untuk membangun infrastruktur – pembangkit listrik, jalan raya, pelabuhan, bandara, atau kawasan industri. Namun, semua pinjaman proyek tersebut memiliki syarat bahwa perusahaan rekayasa dan konstruksi untuk mengerjakan semua proyek tersebut haruslah berasal dari negara kami. Intinya, sebagian besar uang pinjaman tersebut tidak pernah keluar dari Amerika, sebuah mekanisme sederhana dimana uang tersebut hanya berpindah dari kantor kas Bank di Washington kantor bidang rekayasa di New York, Houston atau San Fransico. [tujuan utang hanya membangkrutkan negara penerima dan menjadikannya sebagai jajahan dari jaringan korpotokrasi : korporasi-pemerintah-bank AS]

Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya adalah di Indonesia, dan saya  masuk dalam sebuah tim yang terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk menciptakan master plan pembangunan pembangkit listrik untuk pulau Jawa. …..… Saya tahu bahwa saya harus menghasilkan model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa. Saya tahu bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya. [termasuk didalamnya World Bank, IMF)…….

Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran untuk memberikan utang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel,Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi. Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara pengutang (seperti Indonesia) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan favours (untuk balas budi), termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya.” ……..

“Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB.”

“Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat senang bagi segelintir keluarga dari negara-negara penerima utang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima utang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintah-pemerintah penerima utang. Maka semakin besar jumlah utang semakin baik. Kenyataan  adalah beban utang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.”

“Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi.”

Cuplikan dari Buku : John Perkins – Confession of Economi Hitman (sebaiknya dibeli dan dibaca)

Argentina, Sebuah Negeri Kaya yang Menjadi  Korban Utang

Di tahun 1960-an hingga 1970-an, negara-negara Amerika Latin seperti Brazil, Argentina, Meksiko mengikuti program

Bendera ArgentinaBendera Argentina

pinjaman besar dari negara/lembaga kreditor internasional untuk industrilisasi, khusunya proyek infrastruktur. Dengan skema manipulasi statistika dengan pertumbuhan GDP semu (memperkaya segelintir pihak/orang), ekonomi tumbuh dengan persentase yang gemilang dan kreditor terus meminjam utang yang besar. Antara tahun 1975 hingga 1982, utang Amerika Latin terhadap lembaga perbankan meningkat rata-rata 20.4%. Kecanduan utang  menyebabkan utang meningkat 4 kali lipat pada USD 75 miliar [1975] menjadi USD 315 miliar [1983]. Angka pinjaman ini setara dengan 50% GDP dari negara-negara Amerika Latin. Akibatnya, bunga dan cicilan utang negara Amerika Latin naik dari USD 12 miliar [1975] menjadi USD 66 miliar [1983].

Argentina adalah salah satu negara Amerika Latin yang menjadi korban para EHM dengan membawa neoliberalisme yang didukung oleh korporasi asing (multinational company) dan lembaga-lembaga keuangan seperti IMF, World Bank, USAID. Seperti Indonesie, Argentina adalah negara yang memiliki kekayaan yang melimpah. Utang yang besar serta pemerintahan yang berpaham neo-lib mengakibatkan negara kaya yang menyatakan kemerdekaan sejak 1816 terjajah secara ekonomi, politik dan hukum. Stagflasi (inflasi tinggi disertai angka pengangguran dan stagnansi ekonomi) pun mulai terjadi dari 1975 hingga 1990 akibat bunga utang ang besar, penghindaran pajak dan modal flight. Dan puncak krisis ekonomi Argentina terjadi pada 2001.

Tahun 2002, Argentina tidak mampu membayar kewajiban utang dan bunga, GDP merosot, pengangguran meningkat 25% dan depresiasi Peso terjun hingga 75%. Dimasa-masa pemulihan krisis inilah, tokoh Néstor Carlos Kirchner Ostoić lahir menjadi pemimpin Argentina selama 4 tahun dari 2003-2007. Tahun 2003, GDP baru rebound setelah pemimpinnya mengeluarkan kebijakan strategis terpadu dan peningkatan ekspor komoditas.

Kebangkitan Argentina dan Sang Presiden Néstor Kirchner

Dapat kita bayangkan bagaimana kondisi perekonomian Argentina pasca 2 tahun krisis. Inflasi yang tinggi, modal yang lari, utang yang besar, pengangguran tinggi, stagnansi pertumbuhan ekonomi (bahkan stagflasi) serta ketergantungan asing yang masih tinggi. Semua kehancuran ekonomi rupanya dapat bangkit dan bahkan tumbuh berjalan dengan cepat pasca terpilihnya Néstor Kirchner. Sebelum menjadi presiden,  Néstor Carlos Kirchner Ostoić (Néstor Kirchner) kurang dikenali dunia internasional maupun rakyat Argentina itu sendiri.  Dunia internasional terutama Amerika cs kurang bersimpati dengan sosok yang dikenal berseberangan dengan paham neo-liberalisme.

Néstor Kirchner merupakan sosok anti program IMF karena menganggap lembaga ini bersama lembaga keuangan lain telah menyebabkan kehancuran negara-negara kaya di Amerika Latin. Wajar jika

Pres Luiz da Silva, Pres. Nestor Kirchner dan Pres. Hugo Chávez tahun 2005Pres Luiz da Silva, Pres. Nestor Kirchner dan Pres. Hugo Chávez tahun 2005

ka pencalonan presiden Kirchner yang pro rakyat mendapat antipati dari negara Paman Sam dan sekutunya.  Hal yang serupa dengan rekan-rekan Kirchner yang anti neoliberalisme seperti Presiden Venezuela Hugo Chávez, Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Bolivia Evo Morales, dan Presiden Uruguay Tabaré Vázquez. Meskipun pada awalnya ia kurang dikenal oleh publik, namun dengan mengusung visi/semboyan  “returning to a republic of equals“, pada akhirnya ia didaulat menjadi Presiden ke-52 Argentina dari 25 Mei 2003 – 10 Desember 2007.

Kebijakan-kebijakan revolusioner Sang Presiden dalam hukum, perpajakan dan ekonomi kerakyatan membawa cepat kebangkitan ekonomi Argentina. Dari stagflasi di tahun 2001-2002, Argentina dibawah Néstor Kirchner rupanya mampu mengubah situasi sosio-ekonomik dan ekonomi terus tumbuh dengan angka-angka rata-rata mencapai 9% selama kurun 2003-2007. Angka inflasi yang tinggi dapat ditekan hingga 9%. Pasca Néstor Kirchner, ekonomi tumbuh sedikit melambat sekitar 7% pada tahun 2008 akibat krisis finansial Amerika 2008 silam.

Istri Kirchner, Cristina Fernández de Kirchner yang menjadi Presiden ke-53 Argentina tetap melanjutkan pemerintahan yang pro-rakyat dengan mengucurkan USD 32 miliar untuk program pembukaan lapangan pekerjaan publik 2009-2010 serta USD 4 miliar untuk pemotongan pajak dan subsidi bagi sebagian besar rakyat negara yang berpenduduk 40.5 juta jiwa [2008].

Presiden Néstor Kirchner, Pembela Kaum Rakyat

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari kepemimpinan Néstor Kirchner, seorang pemimpin sipil (bukan militer, tapi berjiwa militer). Ditengah krisis ekonomi yang melanda negerinya, utang membengkak hingga USD 178 miliar, korupsi, hegemoni asing di negerinya, ia justru secara cukup radikal melawan ketidakadilan sistem dan lembaga yang merongrong kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatknya. Dengan mental berani menegakkan kebenaran, ia melakukan reformasi di bidang hukum, ekonomi, politik, sosial dan HAM.

President Néstor Kirchner in March of 2007President Néstor Kirchner in March of 2007

Di bidang hukum ia mereform Mahkamah Agung Argentina. Para pejabat hukum yang bejat di pecat, dan menggantikan pejabat yang pro-rakyat serta mewakili mereka yang religius bahkan atheist (mirip Nasakom bung Karno). Dibidang HAM, Kirchner memecat sejumlah Jenderal, Laksamana,dan Brigadir Tentara yang memiliki reputasi terlibat dalam kejahatan Dirty War. Dibidang sosial, ia memprioritaskan masalah sosial akibat kesenjangan kemiskinan antara si kaya dan miskin, pengangguran. Dibidang politik, ia memutuskan hubungan yang terlalu “menyembah” ke kubu Amerika yang selama ini didaulat oleh presiden yang pro-neoliberalisme Amerika. Ia pun menolak WTO dalam agenda Pasar Bebas di Benua Amerika. Hal yang cukup bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah Indonesia saat ini yang melakukan kerjasama pasar bebas dengan menerapkan bea masuk 0% bagi beberapa komoditisi pertanian/peternakan dan terus mengekspor mentah sumber daya alam ke luar negeri tanpa diolah terlebih dahulu.

Dan dibidang ekonomi, Kirchner memfokuskan ekonomi mikro, peningkatan nilai sumber daya alam sebelum diekspor, meningkatkan program sosial ekonomi serta meningkatkan subsidi fundamental bagi rakyat. Dengan kebijakan yang revolusioner, ia meminta penjadwalan kembali pembayaran utang  dan bunga senilai USD 84 miliar selama 3 tahun ke depan. Kebijakan ini ia tempuh karena Kirchner melihat bahwa sebagian besar utang tersebut adalah utang najis (odious debt) dan skenario utang tersebut bukan akan membangkitkan sosio-ekonomi rakyat Argentina justru sebaliknya utang hanya menjadi candu kesengsaraan rakyat Argentina.

Keputusan penjadwalan kembali utang (rescedule debt) tentu saja ditentang oleh para pejabat IMF, WB, pemerintah dan korporasi Amerika dan dari oposisi Pemerintahnya sendiri. Mereka mengancam bahwa jika keputusan itu diambil maka ekonomi Argentina diramalkan semakin memburuk dari saat ini (masih krisis), akan dikucilkan dari pergaulan internasional, negara-negara neo-lib tidak akan bertransaksi dengan Argentina, investornya akan keluar dari Argentina, investasi luar tidak akan masuk ke Argentina, dan intinya Argentina akan di-black list. Kasus ini sama dengan sebagian besar orang yang selama berdiskusi dengan saya bahwa jika kita menghapus utang najis, maka Indonesia akan diserang oleh Amerika, akan didiskreditkan oleh negara-negara asing dan Indonesia akan collapse.

Dibawah ancaman lembaga asing, pemerintah Amerika cs dan antek-antek neoliberalisme, Kirchner maju terus dengan mental berani untuk membela kebenaran rakyatnya. Iapun didukung oleh Joseph Stiglitz, mantan ekonom di Bank Dunia yang akhirnya menentang kebusukan IMF. Joseph Stilitz mendukung Argentina untuk mengambil langkah independen dari ketergantungan lembaga asing dan dikte Amerika Cs yang berusaha menjadikan Argentina adalah negeri jajahan Korpotokrasi, menjadikan Argentina negara jajahan neo-lib.

Kirchner beralasan bahwa APBN Argentina sangat membutuhkan dana pembangunan untuk mengurangi penderitaan rakyatnya. Jika dalam 3 tahun ke depan, Pemerintah Argentina terus  membayar utang, maka secara tidak langsung mengabaikan hak asasi hidup layak yang paling mendasar bagi rakyatnya. Lalu, dana cicilan ULN +bunga dialihkan untuk membuka sektor rill. Membuka pertanian dan industri pertanian serta segala macam infrakstruktur. Infrastruktur yang terintegrasi membuat produksi dari high cost economy menjadi low cost economy.

Dibawah gertak sambal IMF, WB, Amerika CS, ternyata Presiden Kirchner berhasil membawa ekonomi Argentina tumbuh dari krisis 2001.Di tahun pertama, ekonomi tumbuh 7%, tahun kedua tumbuh 8% tanpa utang baru dan tahun ke-3, investor asing justru berduyun-duyun datang Argentina karena dukungan infrastruktur yang dibangun selama 2 tahun pertama membuat biaya  produksi di Argentina telah menjadi  rendah (low cost production).

Perjuangan Kirchner terus berlanjut. Pada semester 1 2005, dengan berani, ia kembali merestrukturisasi USD 81 miliar utang negara. Lebih dari 76% utang tersebut ditender dan direstrukturisasi dengan nilai pembayaran 1/3 dari nilai utangnya.  Pada 15 Desember 2005, Kirchner mengumumkan pembatalan pembayaran utang kepada IMF secara penuh dan menawarkan skema pembayaran tersendiri.

Kemenangan Rakyat Argentina, Apa Kabar Indonesiaku?

Keberanian pemimpin Argentina dari segala bentuk ancaman ternyata berhasil membawa keadilan bagi rakyatnya. Utang yang selama ini dirancang untuk membangkrutkan perekonomian negara seperti John Perkins akui ternyata dapat dimenangkan oleh rakyat Argentina. Baik utang korup dan manipulatif dari Utang Luar Negeri (ULN) maupun utang dalam negeri yang diciptakan dari utang swasta jelas adalah utang najis (odious debt). Rakyat tidak merasakan utang tersebut, justru segelintir orang dan korporasi yang merasakan nikmat utang tersebut. Mengapa rakyat harus membayarnya? Mengapa para pemimpin kita justru dengan sangat setia membayar utang tersebut dengan cara meningkatkan utang negara luar negeri, mengurangi subsidi, serta terus menambah utang dalam negeri?  Ratusan bahkan triliuan rupiah uang rakyat/negara telah digunakan untuk membayar jebakan utang najis (odious debt trap). Dan pembengkakkan utang negara hingga 1667 triliun pada Januari 2009 dikarenakan pemerintah lebih membela kepentingan asing dan pengusaha/obligor/bankir daripada membela kebenaran hak rakyat.

Jika para pemimpin hanya bisa terus membayar utang najis dengan menambah utang baru (gali lubang tutup lubang), maka seorang lulusan SMA pun bisa melakukannya. Tidak usah seorang sarjana atau doktor ekonomi. Yang kita butuhkan adalah mental yang berani memperjuangkan nasib rakyat? Memperjuangkan penghapusan atau setidaknya penjadwalan kembali utang najis untuk dialihkan untuk pembangunaan sektor riil, subsidi pendidikan, dan membuka usaha dan indsutri pertanian dan perikanan.

Jika Argentina bisa mengajukan diskon kewajiban pembayaran utang hingga 70%, atau menlikuidasi utang Argentina pada IMF dengan skema single paymetn tanpa refinancing total USD 9.8 dalam keadaan sosio-ekonomi yang buruk, mengapa Indonesia tidak bisa? Indonesia justru memiliki sumber kekayaan yang jauh lebih besar daripada Argentina. Kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2003-2005 justru jauh lebih baik dari sosio-ekonomi Argentina pada saat itu. Yang lebih takjub lagi adalah meskipun elektabilitasnya diatas 60% pasca pemilu 2007, Kirchner justru tidak maju kembali menjadi Capres. Ia cukup puas dengan sistem yang telah ia bangung, ia cukup merasa yakin bahwa rakyat Argentina dapat mengikuti jejaknya menjadi Presiden yang tidak haus kekuasaan tapi berjuang dan bertindak membela kepentingan rakyat.[nusantara]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s