10 Janji SBY = Gagal

Dalam kampanye di Kendari, Capres Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat untuk tidak memilih calon presiden yang terlalu banyak berjanji dan belum terbukti kerjanya untuk kemajuan negara [SBY : Jangan Pilih Capres Banyak Janji]. Tidak tanggung-tanggung, SBY menunjuk jari telunjuknya kepada capres lain yang banyak janji, tapi ia lupa bahwa 3 jari lainnya menunjuk kepada dirinya sendiri. Dengan mengatakan bahwa jangan piilih capres yang banyak janji, maka bagi masyarakat yang tidak amnesia akan tertawa “toh... selama hampir 5 tahun pemerintahannya, SBY gagal dalam menepati janji-janji kuantitatif“.

Saya tidak tahu apakah SBY sudah lupa dengan janji-janjinya pada tahun 2004 yang ia tuangkan dalam bentuk Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004 -2009. Salah satu yang mudah kita telusuri janji-janji SBY adalah paramater yang terkuantisasi yakni ekonomi kesejahteraan selain pendidikan, korupsi dan keamanan.

Mungkin, banyak masyarakat sudah lupa dan sengaja lupa akan janji-janji SBY ketika kampanye tahun 2004. Supaya masyarakat melek informasi, silahkan akses Per.Pres. 7 Tahun 2005 yang terdiri 36 bab.Tulisan ini saya pernah saya tulis dalam serial Fakta-Fakta Tersembunyi Pemerintahan SBY-JK : Bagian 1Bagian 2, dan Bagian 3.

1. Janji Gagal dalam Pertumbuhan Ekonomi 2004-2009 (Turun)

Berdasarkan janji kampanye dan usaha untuk merealisasikan kesejahteraan rakyat, pemerintah SBY-JK selama 4.5 tahun belum mampu memenuhi target janjinya yakni pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 6.6%. Sampai tahun 2008, pemerintah SBY-JK hanya mampu meningkatkan pertumbuhan rata-rata 5.9% padahal harga barang dan jasa (inflasi) naik di atas 10.3%. Ini menandakan secara ekonomi makro, pemerintah gagal mensejahterakan rakyat.

Pertumbuhan

Janji Target

Realisasi

Keterangan

2004

ND

5.10%

2005

5.50%

5.60%

Tercapai

2006

6.10%

5.50%

Tidak tercapai

2007

6.70%

6.30%

Tidak tercapai

2008

7.20%

6.20%

Tidak tercapai

2009

7.60%

~5.0%

Tidak tercapai *

Janji Target Pertumbuhan Ekonomi : RPM 2004-2009
Realisasi Pertumbuhan Ekonomi : BPS RI – GDP (hal 1-3)

Tidak tercapainya angka pertumbuhan ekonomi di atas 6.6% menyebabkan program pengentasan kemiskinan dan pengangguran tidak dapat dicapai oleh pemerintah sesuai dengan janji dan targetnya. Padahal, strategi utama pembangunan ekonomi untuk mengentas kemiskinan dan pengangguran adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdimensi pemerataan melalui penciptaan lingkungan usaha yang sehat. Sehingga, jumlah masyarakat yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya nyaris tidak berkurang.

2. Janji Gagal dalam Tingkat Inflasi 2004-2009 (Naik)

Inflasi adalah kemerosotan nilai uang yang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka harga barang dan jasa akan semakin mahal. Semakin mahal harga barang dan jasa, berarti semakin sulit masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara alami, setiap tahun inflasi akan naik. Namun, pemerintah akan dikatakan berhasil secara makro ekonomi jika tingkat inflasi setidaknya sama atau dibawah  angka pertumbuhan ekonomi. Dan faktanya adalah inflasi selama 4 tahun 2 kali lebih besar  dari pertumbuhan ekonomi.

Tingkat Inflasi

Janji Target

Fakta

Catatan Pencapaian

2004

6.40%

2005

7.00%

17.10%

Gagal

2006

5.50%

6.60%

Gagal

2007

5.00%

6.60%

Gagal

2008

4.00%

11.00%

Gagal

Selama 4 tahun pemerintahan, Pemerintahan SBY-JK setiap tahun gagal memenuhi janji untuk mengendalikan harga barang dan jasa. SBY berjanji bahwa inflasi rata-rata adalah 5.4% (2004-2009) . Fakta yang terjadi adalah harga barang dan jasa meroket dengan tingkat inflasi rata-rata 10.3% selama periode 2004-2008. Kenaikan harga barang dan jasa melebihi 200% dari target semula.

3. Janji Gagal dalam Jumlah Penduduk Miskin

Salah tujuan utama pendirian negara Republik Indonesia adalah menciptakan kesejahteraan rakyat yang tercatup dalam UUD 1945. Fenomena kemiskinan merupakan hal yang tidak bisa dihindar meskipun di negara semaju Amerika, Jepang, Jerman dan Korea. Yang menjadi tolak ukur adalah seberapa besar rasio penduduk miskin di suatu negara dan seberapa banyak angka kemiskinan yang mengancam harkat dan martabat manusia yang seutuhnya.

Dalam RPM 2004-2009 (Bagian 4 halaman 1)

Sasaran pertama adalah pengurangan kemiskinan dan pengangguran dengan target  berkurangnya persentase penduduk tergolong miskin dari 16,6 persen pada tahun 2004 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 dan berkurangnya pengangguran terbuka dari 9,5 persen pada tahun 2003 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009.

Penduduk Miskin

Jumlah

Persentase

Catatan

2004

36.1 juta

16.60%

2005

35.1 juta

16.00%

Februari 2005

2006

39.3 juta

17.80%

Maret 2006

2007

37.2 juta

16.60%

Maret 2007

2008

35.0 juta

15.40%

Maret 2008

2009

8.2% ????

Sumber data:
Janji Menurunkan Angka Kemiskinan : RPM 2004-2009
Fakta Angka Kemiskinan : BPS 2008

Sudah jelas bahwa dalam penangangan kemiskinan, SBY gagal memenuhi janjinya lagi.

4. Gagal Mempertahankan/Menstabilkan Kurs Rupiah

Kurs Rupiah

2004

2009

Kondisi

Dollar US

9,078

10,146

Melemah 12%

Ringgit Malaysia

2,388

2,908

Melemah 22%

Dolar Singapura

5,448

7,027

Melemah 29%

Peso Filipina

161

214

Melemah 33%

Baht Thailand

221

297

Melemah 34%

Referensi : Kurs per Juni 2009 Fiskal Depkeu dan kurs rupiah diatas rata-rata pada tahun 2004 (Rp 8928 per dolar).

Salah satu paramater perekonomian adalah kestabilan nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang dunia. Dari  data kurs rupiah terhadap sejumlah mata uang, terlihat bahwa selama 4 tahun, pemerintah SBY-JK gagal mempertahankan nilai kurs rupiah, bahkan dalam kawasan ASEAN, nilai tukar rupiah merosot lebih 30%. Hal ini berbeda dengan pencapaian kurs mata uang Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Ditengah merosotnya kurs rupiah, Malaysia mampu menguatkan kursnya lebih 8%, Filipina 16%, Thailand 15%, dan Singapura 14%. Jelas sudah, kekuatan aspek ekonomi kita cenderung menurun dibanding negara ASEAN.

5. Gagal Menegakkan Supremasi Hukum dalam Kasus Pembunuhan Pejuan HAM Munir

Sudah hampir 5 tahun Almarhum Munir meninggal akibat diracun zat Arsenik. Namun hingga saat ini, para pelaku utama pembunuhan Munir tidak ditangkap. Badan intelijen, aparat kepolisian dan kejaksaan Pemerintah SBY-JK gagal mengusut tuntas kasus Munir. Dan sejak Muchi PR divonis bebas pada akhir tahun 2008, kasus Munir bak ditelan bumi. Justru orang yang diduga kuat dalam pembunuhan Munir, Muchdi PR berada dalam teras utama Partainya Prabowo sebagai Wakil Ketua Umum II.

6. Kasus Aliran Dana Korupsi DKP 2004 kepada 5 Capres/Cawapres 2004 yang ditenggelamkan

Rokhmin Dhuri mengaku bahwa terjadi aliran dana non-budgeter negara yang masuk ke rekening para Capres dan Cawapres 2004 yakni sebagai berikut: (disusun berdasarkan nomor urut pilpres putaran pertama) –  (sumber)

  1. Wiranto – Salahuddin Wahid : 220 juta
  2. Megawati S – Hasyim Muzadi : 280 juta
  3. Amien Rais – Siswono Yudohusodo : 400 juta
  4. Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla (SBY-JK) : 225 juta
  5. Hamzah Haz – Agum Gumlelar : 320 ju

Kasus penyelewangan dana yang diutarakan Rokmin Dahuri bahwa  melibatkan pejabat dan tokoh penting akhirnya dapat dianulir lewat jabat tangan antara SBY-Amien Rais di Bandara Halim Perdana Kusuma pada hari Minggu, 27 Mei 2007. Dengan dalil yang mengelikan yakni “adanya upaya untuk mempolitisasi kasus korupsi dana non-budgter ke ranah politik“, maka kasus ini tidak lagi diungkap. KPK diam seribu bahasa, Amien bersama 4 capres lain hidup lega. [sumber]

7 . Gagal Menegakkan Pasal 33 UUD 1945 dengan Mengagendakan Privatisasi 44 BUMN

Di awal tahun 2008, pemerintah SBY-JK kembali mengumumkan privatisasi 34 BUMN, padahal tahun sebelumnya ada 10 BUMN diluncurkan (carry over). Ini berarti rencana privatisasi BUMN oleh Pemerintah SBY-JK layak tercatat dalam MURI yakni dalam setahun akan memprivatisasi 44 BUMN. Untung saja….. para tokoh nasional seperti Kwik Kian Gie, Rizal Ramli, Amien Rais, Hendri Sabarini, Fadjroel Rahman, Drajad Wibowo, Sri Bintang Pamungkas melakukan edukasi sekaligus mendesak penolakan privatisasi BUMN yang berpotensi Industri-Industri strategis kita dimiliki oleh asing. (sumber data : Inilah.com : Waspada Ledakan Privatisasi BUMN .

8. Gagal Menyelesikan Masalah Ambalat dan Menegakkan Kedaulatan Bangsa

Masih buruknya pengelolaaan anggaran negara dan tingginya mark-up dalam pengadaaan proyek barang dan jasa mengakibatkan anggaran yang naik hampir 300% tidak membawa perubahan besar. Justru kekuatan TNI makin melemah dengan berjatuhannya pesawat-pesawat militer TNI. Hingga Juni 2008, setidaknya 5 pesawat TNI jatuh dengan menewaskan lebih dari 140 orang. Kelemahan kekuatan TNI pun diejek oleh Tentara Diraja Malaysia dengan mengiri kapal Perangnya masuk ke perairan Ambalat hingga belasan kali pada tahun 2009 ini.

9. Gagal Menjaga Politik Bebas Aktif dalam Hubungan Luar Negeri

Pada tanggal 24 Maret 2007, pemerintah Indonesia mendukung Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB No 1747 yang diusung oleh negara Amerika Serikat. Resolusi tersebut merupakan sanksi terhadap Republik Islam Iran mengenai senjata nuklir. Mendukung resolusi Iran dengan begitu percaya pada Amerika merupakan tindakan melanggar asas pra-duga tidak bersalah kepada Iran. Indonesia sebagai negara yang sejak awal menyatakan sebagai negara ketiga yang bebas dari blok AS ataupun Uni Soviet (Rusia), semestinya abstain dalam resolusi tersebut. Hal ini mengingatkan kita kepada statement SBY ketika menjadi Menko Polkam bahwa Amerika adalah negara keduanya.

10. Gagal dalam Menegakkan Kredibelitas dalam Kebijakan Nepotisme (Koruptif) untuk Lumpur Lapindo

Kita tahu bahwa salah satu pemilik Lapindo Brantas adalah Aburizal Bakrie yang menjadi petinggi partai Golkar sekaligus penyandang dana kampanye SBY-JK pada pilpres 2004. Meskipun pada awalnya SBY-JK-Bakrie menyangkal mendapat dana ’siluman’ dari Bakrie, namun pada tahun 2008 JK mengakui bahwa Bakrie menjadi salah satu penyumbang dana kampanye SBY-JK. (Salah satu bahwa pada awalnya SBY-JK-Bakrie dan tim suksesnya berbohong terlebih ketika Bakrie mengugat majalah Tempo).

Ketika luapan lumpur Lapindo menyedot dana besar dari PT Lapindo Brantas, maka Presiden SBY mengeluarkan Per.Pres 14 tahun 2007 [selanjutnya Per.Pres 48/2008], yang menyebabkan negara dirugikan secara finansial.  Dalam kurun 3 tahun, 3 triliun dana  APBN dikucurkan untuk membantu kelalaian pengeboran Lapindo selama 2007-2009. Rinciannya sebagai berikut : 450 miliar pada 2007, 1.57 triliun pada 2008, dan 1.147 triliun pada 2009. [Jusuf Kalla dan 3 Tahun Lumpur Lapindo]

******************

Menanggapi isi kampanye SBY di Kendari, maka saya hanya ingin mengatakan “pak SBY jangan naif”. Mungkin Bapak sudah lupa dengan janji-janji yang dituangkan dalam RPJM 2005. Dalam kesempatan ini saya ingatkan kembali janji bapak terdahulu. Aneh...bukan merasa bersalah karena telah mengingkari janji, tapi sebaliknya mengatakan kepada massa bahwa “pilihlah saya yang tidak banyak janji“.  Hah…jika kita meninjau kembali apa yang ia sampaikan pada tahun 2004, maka himbauan ia dalam kampanye sebenarnya diperuntukkan untuk dia sendiri yakni “Jangan Pilih SBY yang Banyak Janji yang rupanya Gagal”. Janganlah takabur, bahwa dirinya telah berhasil ini dan itu, janjinya sudah ditepati ini dan itu.

Karena ketiga capres saat ini yakni Megawati, SBY dan JK pernah menjabat sebagai RI-1 dan RI-2, dan mereka masing-masing pernah gagal dalam memimpin, maka “janganlah sok sudah berhasil memimpin” terlebih mengakui bahwa dirinya tidak banyak janji padahal janji-janji ekonomi yang ia sampaikan pada tahun 2004 tidak purna disempurnakan.

Salam Perubahan, 13 Juni 2009

[nusantaraku]

4 responses to “10 Janji SBY = Gagal

    • sebaiknya SBY punya Jargon Baru…dengan istilah lainya… masa presiden indomie dan jangan banyak janji…pilihlah istilah lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s